Membina anak-anak untuk berkembang menjadi individu yang tidak hanya mengenali dan merayakan kebaikan pada orang lain, tetapi juga secara aktif mengecam perbuatan salah, adalah upaya yang sangat penting untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Dengan menempatkan mereka dalam lingkungan yang menekankan prinsip-prinsip etika dan mencontohkan perilaku yang berbudi luhur, orang tua dan pengasuh memainkan peran penting dalam membentuk kompas moral mereka. Memupuk kesadaran yang tajam tentang benar dan salah sejak usia muda membekali anak-anak dengan alat untuk menavigasi lanskap moral yang kompleks dengan empati dan integritas. Akibatnya, mempromosikan perkembangan moral anak muncul sebagai strategi mendasar untuk memupuk individu yang penuh kasih sayang, tangguh, dan bertanggung jawab secara sosial. Selami lebih dalam perjalanan perkembangan moral anak yang beragam untuk memahami implikasinya yang mendalam bagi masa depan umat manusia.
Apa Itu Moralitas?
Moralitas adalah kemampuan untuk menarik garis antara benar dan salah. Moralitas seseorang adalah apa yang membimbing tindakan, pikiran, sikap, dan perilakunya terhadap orang lain. Hal ini dapat didasarkan pada lingkungan tempat orang tersebut dibesarkan, bersama dengan kecerdasan emosional dan keterampilan kognitif orang tersebut.
Apa Itu Perkembangan Moral?
Perkembangan moral pada masa kanak-kanak awal adalah pemahaman dan evolusi moralitas pada individu sejak bayi hingga dewasa, dan seterusnya. Banyak psikolog telah mencoba menganalisis gagasan perkembangan moral pada anak-anak dengan mengamati perubahan dalam pendekatan dan pemahaman mereka tentang moralitas.
Tahapan Perkembangan Moral pada Anak
Terdapat 5 tahapan utama perkembangan moral pada anak.
1. Masa Bayi (0 hingga 2 tahun)
Pada usia ini, bayi belum memiliki kemampuan untuk menilai moral. Gagasan mereka tentang benar dan salah berasal dari apa yang terasa nyaman dan apa yang tidak. Penting untuk dipahami bahwa di dalam rahim, bayi tidak pernah sendirian, tidak pernah lapar, dan selalu berhubungan dengan ibunya. Jika hal ini tidak terjadi di dunia luar, bayi akan menganggapnya sebagai sesuatu yang ‘salah’. Diberi makan, digendong, dan dibelai adalah hal yang terasa benar secara alami bagi bayi.
2. Masa Balita (2 hingga 3 tahun)
Meskipun pada usia ini balita Anda mungkin belum dapat membedakan antara benar dan salah, ia akan mempelajari konsep ‘orang lain’ dan akan mulai mempertimbangkan orang lain sebelum melakukan tindakan apa pun. Meskipun ia tidak dapat menjelaskan mengapa ia tidak boleh mengambil mainan saudara kandungnya atau mengapa ia tidak boleh memukul orang lain, ia akan belajar untuk tidak melakukannya karena ia mengerti bahwa ia akan dihukum atau ditegur dalam beberapa bentuk. Pada usia ini, balita Anda akan bermain sesuai aturan Anda untuk menghindari penguatan negatif.
3. Anak Prasekolah (3 hingga 7 tahun)
Ini adalah usia-usia pembentukan perkembangan moral. Pada usia inilah anak Anda menginternalisasi nilai-nilai yang diajarkan dalam keluarga dan dari apa yang dilihatnya di sekitarnya. Ia mencari pengakuan terus-menerus dari Anda dan karena itu akan membutuhkan Anda untuk membimbingnya dan mengambil alih aturan. Anak Anda juga akan memahami bahwa bersikap penuh perhatian terhadap orang lain itu penting karena orang lain terpengaruh oleh tindakan. Ia akan menghubungkan antara tindakan dan reaksi, yang berarti bahwa jika ia berperilaku buruk, ia akan menghadapi beberapa bentuk penguatan. Anak-anak juga cenderung memiliki moralitas berbasis empati yang merasionalisasi bahwa jika mereka menyakiti seseorang, orang itu akan merasa buruk.
4. Praremaja (7 hingga 11 tahun)
Inilah usia ketika anak-anak mulai memahami bahwa orang dewasa mungkin tidak mengetahui segalanya! Meskipun mereka masih patuh pada otoritas, mereka mampu menilai keadilan aturan dan mengidentifikasi konsep kesetaraan. Pada usia ini, mereka akan memiliki gagasan yang kuat tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang perlu dihindari. Mereka juga akan percaya bahwa anak-anak juga memiliki pendapat yang perlu didengar.
5. Remaja
Remaja sangat dipengaruhi oleh tekanan teman sebaya. Namun, mereka memahami bahwa tindakan mereka memiliki konsekuensi dan terkadang dapat berdampak negatif pada orang lain. Rasa moralitas mereka lebih abstrak, dan mereka menganggapnya dapat dinegosiasikan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Karena didorong oleh tekanan teman sebaya, mereka mungkin menggunakan cara-cara yang salah secara moral untuk mengesankan teman-teman mereka. Pada usia ini, orang tua lebih berperan sebagai penasihat dan konsultan daripada figur otoritatif. Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai perkembangan moral pada anak-anak. Mari kita lihat juga penelitian-penelitian tersebut.
Konsep Perkembangan Moral menurut Freud
Konsep perkembangan moral Freud didasarkan pada teorinya tentang id, ego, dan superego. Melalui teori-teori ini, ia mengemukakan bahwa terdapat ketegangan antara kebutuhan individu dan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan. Id dikaitkan dengan bagian pikiran yang bersifat mempertahankan diri dan hanya tertarik pada keuntungan pribadi. Namun, superego berasal dari pusat moral dan lebih peduli dengan apa yang benar bagi masyarakat. Freud percaya bahwa seorang anak akan mencapai perkembangan moral jika anak tersebut mampu melakukan transisi dari id ke superego dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat.
Konsep Perkembangan Moral menurut Skinner
Skinner menekankan gagasan bahwa lingkungan tempat anak tumbuh, atau yang terutama dialaminya, meletakkan dasar moralitas anak. Hal ini diterjemahkan ke dalam bagaimana perilaku dan sikap orang tua dan pengasuh membentuk kedudukan moral anak.
Pandangan Piaget tentang Perkembangan Moral
Piaget menarik persamaan antara perkembangan intelektual anak dan perkembangan moralnya. Ia juga mengatakan bahwa moralitas anak paling baik dikembangkan melalui interaksi dengan kelompok dan paparan terhadap pengambilan keputusan. Pada usia yang sangat muda, perilaku anak dipandu oleh bagaimana ia akan terpengaruh oleh suatu tindakan. Pada usia ini, aturan sangat penting dan dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah, dan anak-anak hanya peduli dengan hasil dari suatu tindakan. Seiring bertambahnya kematangan intelektual anak, ia mulai menyadari perlunya memeriksa motif di balik suatu tindakan dan bukan hanya konsekuensinya. Pada usia ini, anak juga mulai menganalisis keadilan aturan dan akan mengizinkan negosiasi untuk memastikan keadilan bagi semua pihak yang terlibat.